Nona Rosa

Rabu, 02 Desember 2009

Ketika semua berjalan sesuai alur,Nona Rosa bisa tersenyum. Dan ketika alur itu melangkah mundur, ia akan bernostalgia dengan dirinya yang selalu murung, selalu terbujur lemas tanpa daya gizi mengangkat gerak badannya dari empuknya kasur.

Rosa, nama seorang gadis yang memiliki lesung pipit begitu indah. Gigi calingnya mempermanis senyumnya, memperdaya sang adam dengan pingkalnya yang eksotis. Rosa bukan penari striptis, bukan pula jalang dengan senyum iblis. Ia adalah kembang dari dusun yang terletak di belakang gunung, diantara lebatnya pepohonan yang menjulang menutupi sinar matahari dari sela-sela ranting.

Namun, itu dirinya empat tahun yang lalu. Kini, ia berada di sebuah kota kosmopolitan yang penuh dengan gemerlap cahaya lampu jalan, penuh dengan sorot kendaraan. Tak bisa dipungkiri, Rosa dikalahkan dengan nominal. Ia hijrah ke kota dengan tujuan mencari lembaran dengan angka nol beruntun, untuk menghidupi dirinya dan keluarga di dusun. Namun, ia terjebak dalam siklus pencarian uang, terjebak dalam harum kembang yang menjadi lahan bagi pria hidung belang.

Selama empat tahun ia berjalan terhuyung, melihat dunia yang menyetirnya dari dusun sampai ke kota yang penuh biadab. Tak lagi ia mengenal pancasila yang mencantumkan istilah manusia yang adil dan beradab. Ia menjadi jalang di usianya yang terbilang muda. Habis daya, habis upaya, habis semua tata krama yang ia tuturkan sewaktu bangku sekolahan menghiasi hidupnya selama sembilan tahun.

Kini ia merindukan adanya tuhan, adanya malaikat yang segera menghakimi dirinya dengan kalimat-kalimat suci. Entah berapa lama lagi Rosa bertahan. Tangannya selalu tergandeng pria dengan setelan parlente ala kota kosmopolitan. Ia melacur dengan terpaksa, dengan tetesan airmata yang tiada habis ia peras setelah senggama. Tubuhnya yang aduhai telah terjamah, telah dijadikan remah-remah tangan setan yang tersenyum senang.

Ya tuhan, jika dirimu memiliki kendali, jadikan aku sebagai misilmu. Jadikan aku sebagai misil penghancur segala kenikmatan. Kalau perlu jadikan aku setan, jadikan aku jilat api yang membakar kelamin-kelamin para pria. Hilangkan kecantikanku, hilangkan payudaraku, hilangkan kelamin diantara selangkanganku. Aku memilih untuk tidak diberikan hidup jika diberi hidup untuk tidak bisa memilih.

I BREATH FOR PEACEFULL LIFE, BUT NOW, I BETTER OF FUCKIN DEAD. IM THE FLOWER IN THE MIDLE OF THOUSAND BEES.

aku ingin pulang, membawa dosa yang nantinya bercampur darah akibat pecutan parang orang tuaku, kepala dusun itu.

Pada akhirnya, Rosa bertemu dengan seorang laki-laki yang membawanya kembali ke hidup normal, bukan normal menjadi jalang tetapi normal menjadi wanita yang bermoral. Laki-laki itu, malaikat yang telah membawa kalimat suci yang pernah ia pinta di kehidupan suramnya.

Tuhan, ternyata kau tidak punya kendali. Aku pernah meminta untuk menjadi misil bagi kenikmatan dan kini, aku bersama kenikmatan tanpa gangguan. Aku meminta doa yang pernah ku suratkan padamu, tapi kau memberiku liku yang berharga untuk ditolak. Aku tunggu kendalimu jika memang kau berkehendak dan tidak ingin mati dalam doaku.

Benjamin The Devil

Selasa, 24 November 2009

Sebagian menyebut ini adalah kalam. Dengan segala sembah sujud yang pernah dilaksanakan dan kalimat-kalimat suci yang sering terucapkan di tengah rakaat-rakaat. Mereka bermimpi, bermimpi menjadi manusia yang hidup untuk akhirat. Aku pun ingin begitu, tapi nyatanya, takdirku malah menjadikanku seorang yang biadab.

Aku tidak tahu dimana diriku sebenarnya. Aku hanya hidup di bumi tempatku berpijak dan awan tempatku beratap. Aku hanya memiliki kaus ini. Kaus yang bertuliskan “am i a human?”

DAN AKU TIDAK PERCAYA KEPADA TUHAN

Aku tidak ingin menjadi manusia. Aku tidak ingin diberikan senyuman dari iming-iming tuhan atas surganya dan aku tidak ingin ketakutan atas ancaman-ancaman tuhan atas neraka jahanamnya. Sejak kecil, orang tuaku telah berpulang ke tempat sebelum ia dilahirkan. Agama yang menempel pada orang tuaku kemudian turun dengan pasti dan bukan kentara. Kental.

Saat ini, aku berada di rumah. Tanpa keramik putih yang selalu dibersihkan dengan porselain, tanpa dinding yang dibangun dengan semen berbandrol tinggi. Tak ada perkakas dalam rumahku, tak ada barang pecah belah yang membuat gaduh. Hanya ada selembar kain yang bisa dipakai untuk apa saja, bahkan untuk hal yang tidak bisa disebutkan namanya.

Kemudian, setelah memikirkan kenapa aku ada di dunia dan berwujud manusia, aku langsung berjalan menuju dapur yang tak ada tempatnya. Rumahku adalah dapur, ruang tamu, kamar mandi, dan ruang tidur. Menjadi satu. Aku menyobek kopi hitam yang baru saja kubeli. Kumasukkan pasir-pasir kopi itu ke dalam gelas yang bukan beling- bukan fragile.

Sementara itu, aku gugup. Aku memandang gelas plastik bekas yang kupungut tadi dan kemudian mataku merengut dan menarik udara masuk ke dalam, sangat dalam. Gelas itu berwarna putih dan ada bekas gincu yang menempel, berkerak. Kopi menjadikan putih menjadi hitam apabila dilihat dari atas, dari sisi tajam aves, bundar. Aku bergeser sedikit ke kanan, gelas kopi itu masih kugenggam.

Aku mencoba membayangkan dan membayangkan. Andai saja….. kemudian dalam hati ku terdiam. Mulut yang kering dan berdarah akibat kering ini tak bisa terucap. Kemudian tergerak, seluruh tubuhku menjadi sigrak dengan mendobrak pintu dan keluar. Aku memandang matahari, aku menghirup udaranya yang panas. Lalu aku berpikir, jika aku adalah kopi, aku adalah hitam dari ciptaan Tuhan yang ia maksudkan berstatus putih. Ini adalah jalan yang kupilih. Entah panas neraka itu sangatlah panas dan melelehkan, namun aku masih ciptaan-Nya yang gagal ia putihkan. Hey Tuhan, apabila takdirku ini ditangan-Mu, ubahlah aku menjadi Setan yang terbiasa dengan jilatan api neraka-Mu.

Aku adalah seorang manusia yang Kau biarkan melawan-Mu. Itu sebabnya kau menciptakan neraka? Itu sebabnya kau mengindentikan tempat haram itu sebagai kuning kecoklatan, seperti jilat api yang berkobaran untuk orang sepertiku?

sudahlah. aku terlalu bodoh untuk hal ini. Karena aku lahir dengan nama Benjamin. Benjamin The Devil.



fiction.
dimas.

Bilik Kubik (Sesi Satu)

Aku menunggumu menaruh lengan di atas dada ku. Selama kita masih satu jalan, selama kita masih satu angan. Saat pagi tiba, kau membangunkanku dengan kecupan yang membasahi keningku. Saat siang mulai terang, kau menaruh senyum bercengkerama dengan ejekan muda kita. Saat malam datang, kau meniduriku layaknya seorang dewi yang berbaring di atas awan yang putih kental tanpa angin yang kencang.

Sayangnya, selama aku menunggumu, dirimu tidak pernah hadir kembali. Kemana tawamu yang selalu melebarkan senyumku? Kemana candamu yang mengocok perutku? Aku masih menunggumu menaruh lengan di atas dada ku. Dengan dengus hangat kau selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak pernah aku pinta. Kau menjadikanku seorang ratu pada silam itu.

Sewaktu kita terbaring di sofa itu, bulu kudukku selalu merinding. Selalu mencari celah untuk mendapatkan cintamu yang kau satu persatukan dengan birahimu setelah menjelalat mengarsir tubuhku. Itu dulu, itu hanya mimpi sekarang.

Setelah percekcokan itu, kau menjadi buas, kau menjadi beringas. Aku tahu masalah kita bukan hal yang sepele. Namun, minuman yang kerap kali kau teguk itu membuatku tersadar meski selalu saja enggan untuk ku bayangkan, “aku mungkin masih wanita di atas ranjangmu, namun dia adalah sex mu yang membolak-balikan tubuh dengan sentuhan pori-pori sperma saat dia menyetubuhiku.”

Aku tahu kau mabuk, aku tahu kemejamu selalu lecak dengan kerahmu yang jingkrak tiap kali kubukakan pintu rumah kita. Aku tidak mengerti, aku pun tak paham mengapa kau menjadi begini. Satu hal yang ingin ku tanyakan kepadamu adalah, kemana dirimu yang dulu mengharamkan barang macam itu? kemana dirimu saat bersujud ketika adzan mulai dikumandangkan?

Aku hanya punya bilik ini, bilik yang hanya berbentuk persegi, kotak dengan hitungan matematika memakai rumus yang berkubik-kubik. Sebelum kau pergi dengan tamparan yang bersarang di pipi ku, aku selalu berdoa dan meminta, bukan kepada Tuhan tapi kepada Setan supaya kau menjadi Setan itu yang dibakar dan dikembalikan kepada Tuhan.

Untuk itu, aku tidak ingin melupakan malam kita, hari kita, bulan kita, tahun kita, dasawarsa kita, dengan saling menghujam. Dirimu memang kejam dari sudut pandang kesusilaan, namun kau berbesar hati ketika kau mengajariku cara bersusila yang baik yang benar, sebelum kemejamu berubah menjadi lecak, sebelum kerahmu berubah menjadi jingkrak, tiap malam dan tiap malam kemudian.



dimas.