Sabtu, 02 April 2011
bisik
Jumat, 01 April 2011
mahal
ada yang menyimpan makna
di balik senyum lekuk indahmu
ada yang bergaris tapi semu
sukahatimu pada bibirku
ada yang menoleh
lalu kupegang
jangan
biar waktu itu
biar dia, jadi saksi masa emas
biar dia, jadi lantun tembang raras.
kusandarkan kecup di keningnya
timbul mesra pada bunga-bunga
mencintaimu tak pernah sebegitu rindu
tapi merindumu.
seperti mencintai sekian lama.
mahal
penjahat jalanan, kodratkan sampai mana siangmu bermalam
pagimu yang membuncah, memecah mentari.
dan kamu yang bersenandung syahdu
memintaku kembali
kepada adat yang biasanya menghabiskan hari
memupuk. bernostalgi.
kepada sejuk yang mengangkat hati
hai dansa.
saat dalang mewayangkan abdi.
hai setia.
aih dewa.
bawakan gondola di sungainya
yang hilir ke hulu
dengan hati pada rindu.
untuknya, kelopak bunga mawarku.
Minggu, 27 Februari 2011
dystopian
aku bibir gincu
yang merah merona
atau berdaya tarik pesona.
akulah magnet dari matamu.
akulah yudhistira.
aku juga gunatalikrama.
pada amarta.
itulah sisipanku dalam tidur.
aku manusia.
mungkin aku rama.
merindu sinta seperti demam baginda pada harta.
bagianku pada cinta.
tak lebih sebagian dari diriku.
yang kunjung membakar, terkadang padam.
akulah yang biasa, yang terkadang subur pada sawah
atau tandus di lapang.
akulah insan, yang muda terlalu banyak pinta
akulah nisan, yang pernah terseka semasa hidupnya.
distopia, lagu ku dystopian.
2 februari 2011
dystopian
ada syahdu syahdan
yang bising, yang kacaukan kromatisasi
lalu pagi tak lagi dengan burung atau ayam
digantinya dengan jejak-jejak menggulung hitam
di atas awan.
beradu dilema pada fajar
lalu cemburu pada senja
oranye, kuning langsat, merah delima.
tak ada.
hitam dan gemuruh
suatu pagi, si udara meminta
dilamarkan pada embun
tapi helai daun tak hijau rimbun
lalu sia-sia,
alamatkan semuanya pada dia,
si kuasa semesta.
ada air tak ada sumber
seperti tak ada tanaman jika tiada tanah
bagaimana ini?
bagaimana bila mengerti, rasa yang kabur
hati yang mengelabu
seperti bayang-bayang pada kaca jendela berembun?
lalu tunas jadi cabang
kuat batang jadi dahan.
banyak nan rapuh
elok tapi gemulai.
impian jadi lamin.
dekaplah tubuhku.
bagi-berbagi kasturi
padamu, padaku, paduka.
jika yang anggun itu bukan banal
maka ku kembalikan
atau terbalikkan.
bagimu, yang tak sah.
perempuan.
senyum. baca ini.