Minggu, 19 Desember 2010

selang

pada waktu yang selang,
dan langit sedang dirundung malang,
ah, kita masih duduk,
untuk tujuan yang tak satu setan pun mengerti.

atau Tuhan yang berbaik hati,
menempatkanku padamu,
atau memang bumi,
yang pasrah untuk kita tempati selalu?

Kamis, 02 Desember 2010

Gaib

tuhan, manusia gaib
atau manusia yang gaib, dalam alam tuhan yang nyata?
lalu kehilangan menjadi keberadaan,
saat semua menjadi kekal dalam dunia.

aku tak pernah sampai ke langitmu,
apa memang ada, ruangan disana seperti petak kamarku
dan aku tak pernah melihatmu,
aku hanya tahu, bahwa ada dirimu, yang tak ada, andai logika.

Kamis, 11 November 2010

Memulai

telah kukatakan, sebagian waktuku telah dihabiskan

belum kuhabiskan, aku, padamu perempuan

dan kita berdiri bagai monumen, dimana kekal sebuah kenangan

sehingga tak pernah dilupakan, kita, sebagai plesiran.


dan kuseka namamu, atau telah terseka nama kita

pada ujung dunia, dimana perjumpaan telah mengawali

satu bundaran tak bertepi, saat aku sedang sendiri

dan kamu tak punya nyali, sampainya suatu ketika, kita tak sadar telah memulai.



12 November 2010

Minggu, 07 November 2010

mata

ada apa dengan mataku, yang kini merah dan bernanah.
setianya ia pedih pada pagi, dan kusam di lain bagian hari.
tiap ku berkaca, kutemukan tonjolan kecil.
seperti kulit-kulit terluka, yang tergaris persis, di depan bola mata.

kenapa, orang bertanya.
menyipitkan mata, bergetar bahasa tubuhnya.
pandanganku kabur, ku biarkan kaca yang menyangganya.
nyatanya, aku tetap sakit, tak tahu diagnosisnya.

lagu dan puisi

kudengar lantunan melayu kondang, bercampur nada sumbang
ibarat panggung yang megah dengan terpal jadi penopangnya
jasadku berdansa, darahku bergejolak bagai ombak
tuturku tak keluar, cuma meram, aku cium nada itu, semarak.

dan saat puisi menjadi tonggak unjuk gigi,
aku yang kesekian setia kepadanya
dan habis malam tumbuh pagi,
akulah udara, yang dasamuka pada alamnya.