Senin, 27 Juni 2011
Istimewa
Jumat, 08 April 2011
bulan
jika aku tak bisa melihatmu secara dekat
mungkin bulan bisa
mungkin dia menjadi kelopak pada matamu
sedang, aku yang binar menatapnya
andai waktu tak pernah sebegitu tergesa
mungkin aku ingin
menjelma bulan, menjadi kelopak matamu itu
dengan centil kata tak bisa diam
ku taruh endapan kenangan
seperti tandus mencintai hujan
aku merindumu, hingga aku melihat bulan
jika bulan memang bopeng
sinarnya tetap mentari
menghidupi
menidurkan
sampai suatu ketika
bulan memang sesuatu
dia berubah menjadi dirimu
Books - Poetry Session
Sabtu, 02 April 2011
bisik
Jumat, 01 April 2011
mahal
ada yang menyimpan makna
di balik senyum lekuk indahmu
ada yang bergaris tapi semu
sukahatimu pada bibirku
ada yang menoleh
lalu kupegang
jangan
biar waktu itu
biar dia, jadi saksi masa emas
biar dia, jadi lantun tembang raras.
kusandarkan kecup di keningnya
timbul mesra pada bunga-bunga
mencintaimu tak pernah sebegitu rindu
tapi merindumu.
seperti mencintai sekian lama.
mahal
penjahat jalanan, kodratkan sampai mana siangmu bermalam
pagimu yang membuncah, memecah mentari.
dan kamu yang bersenandung syahdu
memintaku kembali
kepada adat yang biasanya menghabiskan hari
memupuk. bernostalgi.
kepada sejuk yang mengangkat hati
hai dansa.
saat dalang mewayangkan abdi.
hai setia.
aih dewa.
bawakan gondola di sungainya
yang hilir ke hulu
dengan hati pada rindu.
untuknya, kelopak bunga mawarku.