Kamis, 27 Mei 2010

emosi pasti mati

seribu mata terpasangkan dalam sangka-sangkaan malam,
kudengar: bukan mata tapi telinga yang diam-diam monyong keluar.
satu dua dan ribuan mungkin saja, urat-urat dari kepala sudah nyata menyala-nyala.
dan mukamu, emosi-emosi yang membentak dalam diam.

aku mencelamu dengan kesantunan yang berpupuran di depan kaca.
kamu hanya melihat diriku terbelah menjadi dua.
semuanya mengadu, dalam singkap merapikan silang tangan.
serta hati-hatinya menonjol, menjorokimu ke batu terjal.

hari menjamu malam yang keguguran darimu, setengok kesialan yang pasrah beradu.
sakramen yang aku miliki, tidak sempat merenggutmu dari keracauan.
aku jumpa pagi ibarat seni yang tak pernah mati,
dan membunuhmu picik, menyayangimu licik, sebuah emosi.

Selasa, 25 Mei 2010

Jejak kata (ngetes sebuah peran)

“Aku sakit, seharusnya aku tidak membaca amplop itu”, ucap dewa yang duduk di bangku taman dekat menara gendeng. Dewa adalah laki-laki dengan bulu dada yang lebat serta betis yang tebal berotot. Sayang, hatinya terlalu manis untuk menjadi laki-laki. Sejak kecil, ia begitu saja ditinggalkan oleh orangtuanya yang sudah terucap oleh sebuah surat.

Setan pun terlalu baik untuk orang sepertiku, dan dunia seakan terlalu kecil untuk senyumku yang selalu mereka hina.

Kemudian tahun, lambat laun membuatnya menjadi dewasa. Dewa tumbuh dengan psikologinya, entah menyerupai atau memang sejatinya perempuan. Ia berdandan, tak jarang ia berpupuran dan bermaskara. Gincu yang tebal dan dagu yang sengaja ia bentuk, menjadikannya seperti hidup di kalangan lemah lembut.

Sampai suatu ketika, tanpa tersengaja, ia melihat surat yang diberikan orangtuanya dahulu. Alisnya mulai menajam. Dengusan napasnya menjadi geram dan tangannya seraya mengepal. Bedak yang menggeluti wajahnya berangsur menjadi butiran, buih-buih keringat. Ia marah terlahir berbeda dari nilai-nilai ukuran standar sebuah gender manusia, yang membuatnya dipisahkan dari kesenangan.

“Apa aku tidak normal?”, serunya sambil memandangi cermin yang pas berada di depan parasnya. “Tuhan, salahkah aku menjadi begini, salahkah aku menjadi manusia jika hidupku penuh dengan derita?”, katanya dalam hati sambil tak kuasa menahan isakan tangisnya.

Ia tetap menaruh dendam meskipun hari sudah berjalan terlalu jauh dari masa mudanya. Segera ia membawa selembar amplop yang berisi surat tersebut. Ia berjalan keluar, mendobrak pintu kemudian membantingnya dengan keras. Ia tampak terburu-buru, angin-angin menjadi saksi bisu yang menemani seribu langkahnya menuju tengah kota.

Rambutnya yang panjang tersibak megar ditiup angin. Gincunya yang merah merona berantakan diseberangi airmata. Ia duduk dan menangis. Ia duduk dan tertunduk di bangku taman. “Tuhan, ambil saja aku kembali pada-Mu”, doanya pasrah.

Sambil mengusap tetes airmatanya, ia kembali membuka surat itu, surat yang menjadi jembatan atas hidupnya kini dan dulu. Ia kembali membacanya, beberapa kalimat yang membuatnya tiada henti untuk tersengguk.

Untuk dewa anakku sayang,

Ibu sayang Dewa. Bapak sayang Dewa. Dewa jaga diri ya. Ibu sama Bapak mau pergi. Dewa jangan nakal ya. kalo dewa sudah besar, menikahlah ya nak, ibu mohon.


Dewa semakin menjerit. Suara sengaunya mengalihkan pandangan kerumunan orang yang sedang berjalan di taman. Cuma ada merpati, yang setia menungguinya di sekitaran kaki.

“Tidaaaaaaaaaakkkkk. Apa ini bentuk kasih sayang. Apa ini bentuk ibu sayang aku, meninggalkanku karena aku bencong. Buat apa aku menikah jika kalian tidak ada disampingku.” ucapnya dengan suara yang lantang.

“Sudahlah, aku mau menikah denganmu”, sontak suara perempuan memecah serunya tangisan dan penyesalan. “Seruni, namaku”, ucapnya sangat lembut sambil memegang bahu kiri Dewa. Lonceng pun berbunyi dari menara gendeng.

Tangisan Dewa berhenti dan perlahan ia tengok sebuah wajah ayu sambil berkata,

“Kenapa ……. ?”


bersambung.

Jumat, 14 Mei 2010

paragraf ketiga


Aku selalu punya banyak ruang, aku selalu punya kata yang seharusnya diucapkan oleh hati saja. Karena nafsu manusia yang tidak bisa ditundukredamkan, maka jadilah ia, sebuah roman picisan lisan yang mengudara sampai ke telingamu. Hingga daun-daun yang menyaksikan kita dibawahnya menjadi berjatuhan, sampai dahan-dahan diatasnya yang mulai sempoyongan mendengar kataku keluar mesra kepadamu, kekasihku sayang.

Sampailah suatu ketika, ada suara hati yang menjerit-jerit karena tergantikan oleh lisanku yang terlalu kurang ajar sepertinya. Hatiku meminta madu dari dirimu, madu manis milik kembang pesona kemayu. Tapi lisan sudah bertindak adil, dia menjadi selang atas hatiku kepadamu. Sudah tiga bulan sebentarnya, kita menggandrungi semua kelakar tentang sesuatu yang bersifat semu. Semua semu yang tidak kita temukan arti dan definisi pastinya.

Dan cerita menjijikan yang berbau mesra, berbau indahnya romansa pergelutan sepasang anak muda, yang mencoba berlagak santun dan kasih untuk hidupnya sehari-hari, kini, mulai diperdengarkan kembali dan menjadi keterbacaan sekali lagi.

Biarlah uring-uringan diluar sana beterbangan siang dan malam. Karena badai tak kunjung berdamai, maka volume ini aku kecilkan sementara. Hanya aku dan kamu yang bisa mengudara lewat jalur radio yang sempit. Kita tertarik tarik dengan frekuensi lainnya, tapi sayangku, cobalah betulkan setelan radiomu, ternyata aku dan kamu sudah sejalur selama tiga bulan ini.

Karena kesemuan ini yang kita tinggikan, hingga kita meninggalkan keirian yang terjadi di alam sana, sebuah alam dimana aku dan kamu hidup bersama manusia lainnya, yang selalu saja menderu memaksa untuk mengikuti kisah milik adam dan hawa. Karena kita adalah adam dan hawa dalam versi kecil, hanya bagian kecil dari sebuah chapter dari kumpulan miliaran chapter versi aslinya.

Keterkenalan biarlah milik adam dan hawa, romi dan juli, charles dan diana serta beckham dan victoria. Kita punya cerita sendiri, sebuah cerita ditempatkannya kesemuan yang bernama cinta, antara dimas dan putri. Ketika semua, termasuk kamu tergeli melahap catatan ini, bibirku belum jontor untuk membuat kisah cinta lagi kepadamu. Tanganku masih manis sekali. Satu hal yang aku percayai, tulisan merupakan pertanda jaman, sebuah jaman dimana aku dan kamu meretas mimpi-mimpi yang harus dijamahi nanti, mimpi-mimpi yang terbangunjalankan dari gugahan dan gubahan kita yang menyeni atau tidak sama sekali.

Kegersangan alam raya yang tak kunjung berada, kebecekan lubang-lubang jalan yang tak terpasiri, tidak menjadikan asmaradana kita kering dan amblas. Karena sebuah julukan dari jawa, aku ingin menjadi ikan teri, yang disiangi di pinggir-pinggir rel kereta api oleh putri si matahari. Sememuakkan dan se-ecek-ecekkan sudah kalimatku bersilangsengkarut disini.

Happy Thirdmonth Anniversary My Poetry.


paragraf ketiga :
__________________________
__________________________


ketika keramaian kampus yang menjejali waktu kita, aku dan kamu masih setia saling menatap. saling mencari-cari, saling tertuju dan terpusat, dimana letak pacarku yang jelek itu?, katamu. aku disini, kataku sambil menyengirkan senyum manis. dimana, balasmu.aku di hatimu sayangku, tektokbalasku yang meredamkan pencarianmu. aku pun tertawa geli. dan sorak sorai sahabat sekitar juga menukilkan decak jijik yang melihat ke arahku. tak apa. mereka bahagia. begitu juga kita, aku dan kamu.

__________________________
__________________________

Jumat, 07 Mei 2010

#1 pute

# pute


karena malamku yang berubah menjadi candu, siang pun terasa masam. karena dirimu yang tak terlihat oleh kelopak mataku, aku hanya bisa diam dan membayangkan bentuk dan mukamu. masam sekali sayangku. aku mulai tertunduk lesu di bawah pohon rindang. sesekali mukaku ditempeli sinar mentari saat ranting-ranting itu bergoyang ditiup angin yang semilir. ada yang mengganggu di hariku, ada yang mencoba menipuku dibalik tiang mukaku.

aku masih tertunduk lesu. cuma angin yang menjadi dingin saat dua dunia saling bersenggolan. senjakala datang. ranting-ranting lebih seru bergoyang ditiup angin yang tak lagi semilir, ia berganti menyiung membesar tapi bukan beliung. semakin lama aku tertunduk lesu, semakin lama juga aku dimakan angin yang dingin. dan malam yang segera datang tak mungkin mendukungku untuk berdiri. sebelum rembulan menjadi dielu-elukan, lebih baik aku pulang. aku ingin menujumu, seperti air asin yang menjemputmu sampai ke pesisir.

itu semua karena malamku yang berubah menjadi candu, dan siang pun, terasa masam bagi cerita kita berdua, pute si perempuanku sayang.

Sabtu, 01 Mei 2010

3 menit saja.

kamu raih belakang kepalaku, kamu ayun dengan lembut mengusapkan jemarimu. aku sedang muram, dan kamu pun berkata, "kenapa sayang?", membuatku berhenti sejenak melupakan lamunanku, lamunanku akan hilang.

aku menoleh ke arahmu, ku lihat senyuman yang begitu menyenangkan, begitu biru sampai-sampai aku pun dibawa ke dalam ketersenyumanmu itu. aku dan kamu saling menatap. kamu terus mengarahkan senyuman ke arahku. masih dengan jemarimu mengusap belakang kepalaku, kamu berkata, "aku sayang kamu, tenang ya sayang."

teduh sekali. dan kamu pun mengajakku berdiri. aku pegang pipimu dan mukamu merengut. gembil memang pipimu. dan kamu mengapit hidungku, "ih licin, minyak semua." aku dan kamu kemudian tertawa, dan aku lupa akan lamunanku tadi. sedikit saja, sesederhana itu, kamu telah membuatku bahagia. 3 menit saja.