senja yang menghitam dan awan malam yang menguning.
hujan memulai panas dan terik menjelma dingin.
dengarkan, lihat dan ucapkan sesuatu yang bisu dan gila;
dari kementerian diri yang hina, dari binatang yang bersusila.
tuhan bukannya tidak makan, dia hanya sudah kenyang.
kemakan omongannya sendiri.
dan setan bukan pahlawan juga, dia cuma minta dikasihani,
oleh manusia yang redup redam dikhianati nasibnya sendiri.
kesamaan yang kita lihat sayangku, perbedaan mengintip malu.
merasa akan mati bila muncul seorang diri.
sengkarut sekali si matahari, dunia ini tak cukup memahami.
dari sana si juang sudah melaju, tapi sayang, kembang kepingin menjadi benalu.
untuk tanah yang basah dan langit yang terus menangis,
tidakkah aku dan kamu melihat dengan jelas awan kelabu itu.
kita sudah siap membawa payung, setengah badan kita keluarkan,
ke permukaan hujan, tapi sayang, hujan tidak turun.
kita merengut memintanya, sudah terlanjur kata kamu.
tapi langit menjadi-jadi, ia berwarna biru tua.
dengan awan yang berarak senang, dengan gubukkan putihnya.
membuat kita terus meminta hujan, pesimis sekali.
egois sekali kamu, tunggu sebentar lagi.
ternyata terik menjadi dingin dan hujan menjadi panas.
sudah hujan. kita hanya tidak menyadari.
sekarang tidak ada air meski hujan telah turun hari ini.
kamu jangan menangis, air saja tidak lagi dipunya hujan.
sayang, ayo kita tertawa bersama, sekali lagi.
Minggu, 25 April 2010
Selasa, 20 April 2010
masa depan.
sebuah segmen tentang heterogen. mereka berbicara dalam suatu sekumpulan, membicarakan kepentingan masyarakat sekitar. produk yang akan dibuat bukan untuk dijual saat ini, mungkin nanti akan datang suatu masa dimana semua berubah menjadi uang. menjadi ajang pembantaian sesama, saling sikut dan sengkarut seperti tali yang melilit. KUSUT.
cuma pengertian yang tidak dimiliki di dalam cetakan atau dalam layar televisi. ini seperti menjalankan misi militer yang digerakan oleh masyarakat sipil. buta akan peperangan, memaksakan maju untuk melawan.
satu dan lainnya semakin jarang bertemu, bukan soal bagaimana itu caranya bermain dan bersenang-senang. ini masalah keingintahuan, dan hati-hati, keingintahuan itu penuh dengan resiko. resiko berdiskusi sendiri dalam reramaian. merenung dan tenggelam. ada seorang anak muda, terduduk di luar, tidak peduli sekitar. ia hanya membaca koran, menikmati angin semilir menggoyangkan rambutnya yang ikal. seperti menjadi kecanduan akan kesendirian yang absolut.
waktu menjadi mainan. ketika manusia seakan memanfaatkan waktu, tapi itulah yang memburu mereka di dalamnya, menjadi bagian yang terbelenggu meski kenal dan bersahabat dengan itu. dan bahasa menjadi samar. karena akan seperti itu dari dulu sampai sekarang. bahasa adalah suatu hal untuk menyamarkan makna, mengisyaratkan sesuatu dengan kata. tidak akan pernah tampak dengan jelas. ini adalah art poetique. mengaburkan realitas yang sebenarnya realitas itu sendiri.
dan ulak-ulik sedemikian rupa dilakoni. tidak kenal jatuh mati. ini hanya berburu pengalaman dan ekspektasi. dan kerumitan akan terjadi di hariku dan harimu. aku dan kamu kemudian berjalan sendiri, tapi kita bakal bertemu lagi, jangan kuatir. pegang semua ini. kesementaraan sedang berseteru, salami itu dalam hari yang dimulai oleh pagi.
masa depan adalah hari ini. mimpi hanyalah khayalan yang disebut dengan nama "impian". masa depanku bersama pagi, siang, sore dan malam hari. bersama hujan dan terik matahari. cuma itu.
Selasa, 13 April 2010
paragrafkedua.

aku kesana, kamu kesini, kita dikecoh dunia.
kemari kamu, atau aku kesitu, ternyata kamu sudah lama menunggu.
lihat itu, mukamu dan mukaku, seperti ketan dan santan.
dalam satu adonan, begitu mengenyangkan, begitu menyenangkan.
dan kertas masih terbuka dengan sopan, dan pena masih setia kita genggam.
Aku suka melihat hujan di sore hari, saat senjakala mulai bermain sinar. Aku suka melihatmu liar, melihatmu jejingkrakan bagai kuda jantan padahal kamu adalah betina. Aku suka ceritamu yang terkadang membuatku terdiam, bukan masa lalu, tapi itu, kepunyaanmu yang membuatku iri.
Tapi biarlah kita saling berbagi, saling bercerita. Meskipun waktuku tidak sebanyak dulu saat kita pernah duduk bersama, berbincang dengan tawa, dengan nada, sebuah romansa di musim hujan.
Aku suka dengan kata, dan begitulah kata menjadikanku selirnya. Aku tidak bisa apa-apa untukmu. Aku hanya bisa ini. Tidak ada yang lain. Saat pasangan lain penuh dengan kejutan, hidupku mengalir biasa saja. Semoga kamu terbiasa. Karena kita tidak akan berhenti untuk beradaptasi, dan kita tidak akan pernah berhenti untuk saling memahami apa itu sebuah seni yang sedang kita jalani sekarang.
seni membuat semua trasa mudah
karena seni membuat semua jadi indah
karena seni membuat semua jadi asik
(Hidup Itu Pendek Seni Itu Panjang - Indie Art Wedding)
Aku dan kamu seperti kembang dan kumbang. Aku dan kamu seperti angin dan ilalang. Aku dan kamu seperti …….. seperti dimas dan putri. :)
Paragrafkedua:
--------------------
udah makan sayang? Kamu udah solat? (P).
Mmmmmm.. udah belum yah? Mmmm…. gimana yah? (D)
Kamu jalan-jalan dan aku diam. Kamu cerita dari jauh lewat telpon genggam. aku diam dan menganga sambil takutik meja keyboard. Aku tulis, “aku sayang kamu”. Kemudian kamu pulang dan membaca, dan sudah begitu terbiasa. Ah, udah ngantuk, yang jelas aku sayang kamu. Besok, cecuitan suling burung dan kembang-kembang baru akan tumbuh bersama kita. Hahaha. Heboh ga sih? Biasa aja. sudah ada darisananyah. kawkawkawkawkaw.
--------------------
dua bulanan dimas dito dan putri adityowati
12 April 2010, 00.00 WIB
Kamis, 01 April 2010
penyair kejujuran dalam bis

"pelacur itu memberikan selangkangan, pengemis itu menadahkan tangan, tapi apa yang berdasi itu lihat, cuma sebatas pemandangan, bukan penderitaan yang tidak ia alami".
seorang bapak tua tiba-tiba saja naik ke dalam bis dengan menggenggam beberapa helaian kertas di tangan kanannya. bukan penumpang ternyata. mulanya ia memberikan salam, membuka acara di antara penumpang yang duduk bersandar pada jok. kemejanya penuh keringat, mungkin seharian ia mencari uang naik-turun bis, bukan bernyanyi melainkan membacakan puisi, puisi tentang kejujuran.
ada enam kertas sepertinya, tiga berwarna putih dan tiga berwarna biru. dikertas itu jelas sekali rentetan kata membentuk bait, berbaris seperti semut, terlihat kecil dan hitam. kemudian matanya terpejam sebentar, seperti melakukan ritual, lalu terbukalah mulutnya dengan kata yang ia baca pada kertas itu.
suaranya tidak besar, tidak pula menggema, bahkan sesekali saling balap dengan suara knalpot motor di luar sana. ia tetap setia membaca puisi itu, dengan intonasi yang manis ia selipkan diantaranya, berbunyi indah, bahkan untuk sebuah penderitaan yang ia ceritakan di dalamnya.
tangannya menunjuk keluar bis, saat kata yang ia bacakan berbunyi "orang-orang berdasi di gedung itu berbasa-basi, ketika para pengemis menjerit-jerit akibat perutnya melilit". entah siapa yang akan mendengarkan, beberapa penumpang terlihat mengencangkan sumpelan headsetnya seakan tidak peduli. kemudian penumpang yang duduk di belakang mengerungkan mukanya, mencoba mendengar suaranya membacakan puisi dengan lafal yang mengagumkan. ia bercerita tentang kemiskinan dan negeri ini, bukan cinta, bukan roman picisan seperti gibran, bukan perlawanan seperti chairil anwar. puisinya tentang sebuah kritik dan keputusasaan negeri ini dalam dunia kemiskinan yang ada disekitarnya, bahkan di tempat prostitusi.
sudah lembar keenam, dan sampailah ia pada akhir monolog. berhenti sudah rima-rima dalam bis, dan matanya sekali lagi terpejam sebentar, seolah ada ruh yang merasuki, dipersilahkan keluar dari tubuhnya. dan bapak itu berkata :
"saudara, tidak ada yang salah dari puisi ini, yang salah adalah negeri ini. bila kalian tidak menganggap puisi ini sebuah kejujuran, maka kalian telah membohongi diri sendiri sambil menutup hati. dengarkan, karena puisi tidak pernah berbohong, karena tiap kata memiliki makna. jangan salahkan puisi karena memang itu adanya, salahkan dunia menciptakan saya dan teman-teman dalam menyelipkan makna di dalam sini, di kertas ini. jujurlah, karena itu yang dirindukan negeri ini. maafkan saya, karena sudah jujur lewat puisi ini."
ia mengeluarkan kantung, seperti pengamen sehabis bernyanyi. ia menyodorkan kantung itu dengan senyum kepada para penumpang. terlihat tidak ada yang memberi. entah penumpang itu tidak suka dengan puisi yang ia bacakan atau memang mereka tidak mendengarkan, mungkin kupingnya terlalu sibuk dijejali lagu dalam volume keras empetri. sudah lelah si bapak itu sepertinya, dan akhirnya, kuberikan lembaran seribuan kepadanya. andai aku punya sepuluhan, maka akan kuberikan kepadanya. baru kali ini aku melihat penyair bukan pada tempatnya. sebenarnya aku ingin mengikutinya dan sedikit berbincang. tapi apa daya, aku sudah ada janjian. lain kali kita pasti bertemu lagi, penyair kejujuran.
- Bandung, 1 April 2010 -
Sabtu, 27 Maret 2010
buat sesuap penganan, pura-pura jadi wartawan

Kota ini, saat semuanya menjadi kecil, bahkan untuk semesta. Aku tinggal di sebuah rumah susun, sangat kecil, bahkan untuk kencing pun aku harus menempelkan lengan di tembok. Aku tinggal dirumah ini sendiri, ibu ayah sudah ku angkut ke kampung, kasihan, disini mereka hanya akan melihat anaknya menjadi badung. Sudah pagi, aku bergegas bangun, mengambil buku kecil dan pena, berlagak jadi wartawan rupanya.
Di alun-alun, ada kampanye si bapak kumis. Dia biasanya memberikan uang. "Ini kesempatan", kataku sambil menatap ke kaca dengan senyuman meringis, bengis. Pukul 10.00 WIB, aku sudah siap sedia. Seperti biasa sebelum aku cabut, aku menyeruput kopi hitam tanpa gula, maklum minmi biaya, tapi setiap kali ditanya aku selalu menjawab,"gula itu bahaya, diabetes bisa bisa".
Ngiiiiiiiiikkkkkkkkkk, pintu reot ini sudah kubuka, siap cabut tanpa terkunci. Tidak akan ada yang berani masuk. Sungguh, tiada satu kucing pun berani masuk. Jelas saja, dirumahku yang sepetak ini cuma ada kutang dan kolor serta lumut yang mengerak di tembok. Sudahlah biarkan, saatnya mencari penganan.
Alun-alun sudah ramai. Deru knalpot motor saling saing menyaingi berebut perhatian dengan teriakan pedagang obat kuat menjajakan cairan olesan, mungkin cuma sekedar oplosan. Aku berjalan menyusuri, lirik kanan dan kiri. Ada panggung, di tengah alun-alun, ada si bapak kumis, sedang orasi rupanya. Kibaran bendera menutupi terik matahari. Pohon-pohon pun menjadi iri. Angin bersahabat sekali.
Aku menunggu si bapak kumis itu selesai berbasa-basi. Sembari menunggu, aku menclok ke seorang ibu yang bersorak sorai mendukung si bapak kumis. Kukeluarkan buku kecil dan pena yang terselip di lipatannya. Berlagak seperti dokter sebelum mendiagnosa, aku bertanya-tanya, tanpa perekam suara.
"bu, apa hebatnya bapak kumis itu sampai-sampai ibu teriak-teiak mendukungnya?", kataku dengan menajamkan pandangan mata serta tangan yang siap melakukan steno.
"itu mas, si bapak bagus", sahut sang ibu sambil menaruh tangannya di dahi, menutupi sinar matahari yang terkadang tertutupi oleh bendera dengan logo burung gagak itu.
"apa bagusnya bu?", kembaliku dengan penasaran.
"bagus visi misinya. cakep deh. kita ga akan melarat lagi"
"oh begitu ya bu? wahwahwahwah", kataku cetus.
Dari kabar yang kudengar, si bapak kumis ini orang kiri. Ini menarik buatku untuk memancingnya mengeluarkan sedikit duit yang membangkai di kantungnya. Si bapak kumis sudah selesai. Aku bergegas ke belakang panggung, bersopan santun kepada antek-anteknya terlebih dahulu, mengaku dari media besar tanpa tanya-tanya tanda pengenal. Ternyata, banyak juga wartawan yang datang. Aku malu, sedikit ketakutan, takut identitas pencarian uang ini ketahuan.
Aku buang pikiran itu, kusodorkan pertanyaan ke bapak kumis. Untung suaraku rada besar jadi mudah terdengar. Tiba-tiba langit menjadi kelam, seolah tahu perutku sudah lapar.
"bapak termasuk golongan kiri?", tanyaku sok tahu.
"pertanyaan macam apa itu, saya ini netral", jawab si bapak kumis.
"netral itu kan nama sebuah band pak, yang benar nih bukan orang kiri, oh oke kalo begitu, tidak seru ah", kataku menyudahi.
"sebentar, begini, saya tidak menganggap saya ini kekiri-kirian, tapi saya cinta rakyat dan ingin mereka makmur. itu aja", jawabnya pede.
Aku mencatat asal-asalan. Dia tidak melihat apa isi tulisanku karena yang dia inginkan adalah citra. Bukan citra natural seperti lagu Seringai. Duit pun keluar. Ini dia yang sudah ku tunggu.
"kenapa ini pak, apa ini pak"
"udah. ini buat kamu saja, beli makan buat anak istrimu, karena saya cinta rakyat"
Dan dia seperti penikmat cinta pertama, cinta sejati dan blablablabla, gombal sekali.
Panas mulai tenggelam dan aku dapat uang. Inilah negeriku, subjek dan objek sama saja. Idealis bukan tempatnya disini. Disini hanya penganan dan keterkenalan. Muak? Mau bagaimana lagi. Yang penting aku senang dan dia senang. Peduli apa aku tentang negeriku, karena aku hanya kenal perutku. Sudah, sudah terlalu banyak bacot tentang perubahan. Cuma omong doang. Disuruh terjun langsung malah pura-pura pamit ke belakang sebentar. Ini kemiskinan. Kekayaan hanya milik mereka yang doyan ceramah di depan sini.
dan segera, aku menuju tempat makan. selamat tinggal lapar. Besok aku akan menjadi wartawan aspal lagi. Karena profesi ini tidak membuat perutku ini menjadi manja, merengek-rengek minta dijejali penganan. ahahahahahah.
Langganan:
Postingan (Atom)