
Sabtu, 27 Maret 2010
buat sesuap penganan, pura-pura jadi wartawan

Jumat, 26 Maret 2010
singgangsinggungtuhankisanaktanpabingung

Senin, 22 Maret 2010
metamorfosis : ibu

Ibu, aku tahu di dunia ini tidak ada yang tidak menyayangi anaknya sepenuh hati. Ibu, aku tahu, betul aku tahu bagaimana rasanya menjadi anak. Aku keluyuran, bertingkah nakal, sampai suatu ketika aku sadar, aku sedang berada di luar. Tidak terlihat olehmu.
Aku sudah besar sekarang. Aku tidak lagi merasa kesepian, karena memang sedari dulu aku selalu diluar, bersama siang, bersama malam yang terkadang kelabu, terkadang penuh dengan bintang.
Tapi bagaimana ini ibu? Mengapa aku bisa tumbuh menjadi manusia yang penyayang, aku selalu suka dengan hal-hal yang harmoni, padahal engkau tidak pernah berada disampingku ketika aku mulai nakal, ketika aku mulai mempermainkan tuhan.
Entah aku ini sebenarnya keras bagai batu atau lembut seperti salju. Terkadang, aku ingin kita bersama duduk di sebuah taman, berteduh di pohon yang rindang tanpa terganggu deringan telepon genggam. Nyaman dan tentram. Terkadang, aku tidak ingin kita bertemu, karena aku hanya bisa diam, menutupi semuanya. Aku begitu karena aku mulai sadar, aku berbeda dengan mereka yang selalu disamping ibunya, ditemani kesana kemari untuk hal-hal yang sepele, bahkan membeli baju lebaran.
Aku kenal denganmu dan yang lain, sungguh aku kenal kalian dengan dalam. Tetapi, andai saja kalian tahu, aku ingin kalian mengenalku, dari dulu. Aku selalu menganggap kita semua sudah terlambat untuk membenahi, karena aku sudah terlalu sadar akan waktu. Aku bukan lagi seorang manusia kecil yang terlena karena bermain. Aku sudah dewasa, mungkin saja aku sudah tidak peduli dengan hal-hal seperti ini.
Satu hal yang selalu ingin aku berikan, membahagiakanmu sepanjang waktu, karena itu janjiku kepada tuhan. Aku tidak tahu berapa kali aku berkata sayang, tetapi tak perlu engkau mengetahui apa yang sudah engkau ketahui. Tenang saja, aku sudah kembali, aku sudah mengerti, ternyata tidak ada kehidupan yang benar-benar harmoni. Andai semua materi yang telah engkau habiskan untukku bisa diganti dengan hati, maka hiduplah aku seperti orang lain, penuh dengan ribuan mimpi dan ambisi.
Aku telah takluk. Aku bertekuk lutut. Aku takut. Aku takut engkau menjadi orang yang merasa dirinya penjahat. Aku juga tidak tahu, engkau merasakan ini atau tidak. Sudahlah, biarlah kita menyayangi satu sama lain, tidak ada lain. Terkadang, aku ingin memaksamu untuk tidak pergi mencari uang, terkadang pula aku ingin memaksamu untuk mengantarku membeli sesuatu yang aku inginkan. Karena aku tidak pernah merasakan, bagaimana hidup dengan materi dan hati berjalan beriringan.
Cinta, aku punya itu ibu. Aku bisa memberikannya kepada orang lain. Aku bisa karena aku anakmu. Bukan keabadian, melainkan kesementaraan yang akan selalu aku rindukan, yang akan selalu aku impikan. Karena kesementaraan yang telah kita nikmati, lalu kita berdoa dan berharap dunia kita akan abadi, selamanya. Terima kasih ibu, sudah melahirkanku ke dunia ini, dan terima kasih atas kesempatan waktu, yang engkau berikan kepadaku untuk mengenal alam yang sendu.
Beruntunglah aku kini, aku masih bisa melihatmu, aku masih memilikimu dan tidak akan pernah ingin engkau pergi lagi, meninggalkan dunia ini. Berdoalah ibu untukku, karena aku butuh itu untuk mencari cahaya malam. Berdoalah ibu untukku, karena aku butuh payung yang menjagaku dari panas sinar mentari. Dan ketika aku pulang, peluklah aku, dekaplah aku sehangat bulan juni.
Kamis, 11 Maret 2010
paragrafpertama

Jika kata tidak cukup mewakili kita, apa yang kemudian terjadi padanya? Aku jatuh hati kepadamu seperti koran, yang datang harian. Jika aku tidak menjadi sebuah berita, tak apa, mungkin aku hanya artikel biasa. Aku jatuh hati kepadamu seperti cerita, terdiri dari kata dan kalimat serta paragraf.
Cerita kita menarik. Kadang, kita terlampau erat seperti kata yang berkepanjangan, terkadang kita renggang seperti spasi yang menjarakkan kata dengan kata lainnya. Jika berhenti kepada titik, sabarlah, masih ada ribuan kalimat lain yang menanti.
Kita belum menumpukkannya seperti cerita, ini baru satu paragraf yang telah kita rangkai bersama. Masih ada tanda seru dan tanda tanya yang belum dapat gilirannya. Aku ingin menyusun cerita ini bersama, aku dan kamu, dalam kata-kata yang terkadang memekakkan telinga.
Kita akan menyusun kalimat lagi, menyusun paragraf lagi, dan ketika ketika datang lagi, biarkan koma yang mengijinkan kita untuk saling menghela, dan melanjutkannya kembali bersama pena.
Satu pena dengan dua tangan. Apabila tanganmu sudah lelah untuk berdansa, biar tangan ini yang menyanggahmu untuk tidak menyerah, untuk tidak jatuh ke tanah. Tidak perlu melihat ke cermin. Berkacalah kepada kata, karena aku tahu dan kamu percaya.
Apabila aku yang lelah, tolong jangan mengikuti serta diam saja. Angkat tanganku, kuatkan jemariku meremat pena dengan tanganmu. Tolong, bantu tanganku menuliskan cerita kita, sepanjang mungkin.
Paragraf Pertama:
__________________________
Baru saja dan aku tidak percaya. Aku tidur dan tiba-tiba berada dalam beranda. Kamu datang kemudian memberi salam. Aku tertawa terbahak-bahak dan kamu cemberut. Aku pegang wajahmu dan berkata “(D) kenapa sayang? (P) gak papa kok.” Aku cubit pipimu dan kamu cengar-cengir. Lalu kita kembali tertawa sambil berjalan bergandengan tangan. Aku sayang kamu. Cukup dan istimewa berlebihannya. (sambil tersenyum senang).
..................... ..........................
__________________________
12 maret 2010 - 00.00 WIB
Rabu, 03 Maret 2010
serutandatanya
kita berbeda, kita tak sama. tapi aku suka kamu, kamu suka aku. jadi apa salahnya, aku dan kamu bersama, saling menceritakan itu semua, sebuah beda. aku menyeru, kau bertanya, begitu sebaliknya, seru.
dulu: lekas, bawa bedilmu, bidik buruanmu, awas, jaga mata itu
hari ini: karena aku tidak punya lagi, maka aku memintamu, karena engkau punya lagi, maka aku mencintaimu.
cermin, dimana bayanganku?
ada disitu, di depan sini.
berapa beratku?
ada di neraca situ, lihatlah, di cermin ini.
Jika aku menunduk, bangunkan daguku dengan tanganmu. Pukul punggungku supaya aku tidak bungkuk lagi. Aku punya sejuta candaan, tapi itu bukan untuk kunikmati sendiri. Jika aku menangis, usaplah air mataku, sandarkan kepalaku dalam pundakmu. Jika aku sendiri, panggil aku dengan ceriwismu.
dan hidup itu tidak adil. aku tidak bisa memberikan apapun kepadamu. aku ingin memberikan sesuatu. saat ini, aku hanya bisa membuatmu tertawa, itu saja. kepadamu, aku malah memberikan segudang cerita gelisah.
serutandatanya
siapa setan, siapa tuhan
titikoma
gandeng cintaku selalu bersama puan.
edisi satu.
dimas dito, 3 maret 2010.