Sampai di jalan-jalan Kota Lama,
dan tuan telah duduk bersama bunga
Menunggu;
pada waktu tiba, dia tiada
menjadi abu, mekar pun layu
menunggu,
memanggilmu.
Sampai di jalan-jalan Kota Lama,
dan tuan telah duduk bersama bunga
Menunggu;
pada waktu tiba, dia tiada
menjadi abu, mekar pun layu
menunggu,
memanggilmu.
Aku bersamamu.
Sebuah waktu, selama penantianku lebih dari sehari, seminggu, bahkan sebulan. Sewaktu aku bersamamu.
Aku bersamamu.
Ketika aku dan kamu berada di jalan setapak pinggir taman. Pun ketika dipisahkan oleh jalan besar. Kita berseberangan. Tapi aku bersamamu.
Aku bersamamu.
Dan tak pernah kita terpisah di dalam situ. Kita hanya berbeda jalan. Sorga punya banyak pintu. Dan aku bersamamu.
Aku bersamamu.
Saat kembang mulai layu dan daun menjadi gugur. Saat itu kita menunggu musim semi kembali. Saat itu, aku bersamamu.
Aku bersamamu.
Dan kita adalah roman, kasihku sayang
pohon yang landai. boleh aku bergelantungan laksana kera
menikmati matahari yang pergi, diujung laut dan berwarna oranye
aku juga lihat ombak bergulung, bergumul bersama pasir;
ribut, sampai tak ada waktu bagi istana kecil berdiri disana.
dan aku berlari. jejak kakiku mengikuti.
aku terus berlari, meraih mimpi-mimpi kecil.
disinilah tempatku mencari, di garis pantai yang tak pernah ada akhir.
bersama surya, yang menyindir dengan terbit tenggelamnya.