Senin, 26 Oktober 2009

Dalam Ranjang

Apakah aku seorang biduan?
Melebihkan dandanan demi panggung persegi panjang?
Aku ingin menari, aku ingin berdansa bersama tuan
Tanpa peduli, setruman makian mereka memaksa datang.

Aku ingin mendengar dentum desahanmu
Setelah mencabik kaus yang membalutiku.
Saatnya aku senang, tuan kembali meraihku dalam ranjang.
Dalam seks, cinta, dan rasa membuatku seluruhnya mengejang.

Tapi sayang, tuan tak mengerti
Mengapa perlu uang lembaran?
Aku hanya butuh tuan, sebagai peneman rasa hinaku
Aku menginginkan Tuhan, sebagai pendamping dosa kelak, di api nanti.



dimas, 24 Oktober 2009

Dalam Kasih Sayang, Kini Terbuang

Dalam secarik kertas, ada noda meski kini tak lagi dicoret pena
Lampu temaram, menjadi bintang, sinarnya terang.
Aku bersembunyi di belakang pintu dengan kumpulan peluh dan airmata,
Seolah sinar menjadi tiada dan berwujud tiada benderang.

Dari suaranya mengerang bukan kepalang,
Saat datangnya keracauan dalam menyita rasa senang
Adik kecil itu meminta susu, meminta cinta yang panjang
Dalam kenanganmu, dalam kasih sayang, kini terbuang

Hanya sebuah laksana yang mengisyaratkan
Semacam padi yang tak jadi panen
Yang dulu tergenggam sebuah harapan
Musnah diserang hama sebagai musuh laten.

Dari mentari yang berlari
Menutupi segala gelap dari malam
Aku ingin berlari, menjauh dari jilatan api
Mengingat bola itu, tatapanmu yang dulu, kini membuatku terajam.



dimas dito, 24 Oktober 2009

Si Buta

Apakah normal itu sebuah kewajaran?
Tidak, ada yang lain, kau luput.
Apakah itu sesuatu yang luput?
Belajarlah tidak normal, seperti yang buta, yang selalu dinilai ketidakwajaran.

Sampai mana aku tadi? Aku lupa
Sampai si buta memberimu dunia akan eloknya hingar
Selalu membuat tanya, apa itu apa
Gelap terang adalah bulat, membuatmu tertatih dalam hingar bingar.

Bentuk dunia, semua bulat, hanya kita diberi melihat
Laut yang biru dan daratan yang kekuningan
Tanpa melihat isi warna dibalik kalimat
Hanya mereka, yang buta, mencari dunia, menaruhnya kenangan.

Saatnya kita berpulang, mereka yang melihat
Yang bening sorga, kalian?
Malah hitam, buta akan tubuh ini terbaring di liang lahat
Sampai suatu ketika, dunia terikat kembali menjadi talian

Jumat, 28 Agustus 2009

Ayah Ibu, Antara Kasih Sayang dan Egois

Dewasa kian meremajakan imajinasiku. Segala bentuk berontak telah siap kusempurnakan demi menjalani apa itu yang terlarang dan terumpatkan dari perintah orang tua.

Jangan sekali-sekali kau membuat malu ayah dan ibu, nak?
Memang kenapa yah?
Ayahmu adalah seorang pengacara dan ibumu adalah guru, jadi bersikaplah dengan baik agar mengindahkan citra ayah dan ibumu.
Tidak yah, aku sekarang sudah dewasa, sudah mampu mengendalikan mana itu kasih sayang dan egois.
Apa maksudmu?

Sudah sekian lama, hati dan pikiran ini memutar rekaman perintah-perintah seperti kaset lagu di dalam sebuah tape. Mungkin, sewaktu itu, aku masih berjalan ditempat, terlalu takut untuk mengatakan ‘tidak’. Baru kali ini, aku mulai memberanikan diri, meski gugup menemani bersama gemetar di sekujur tubuhku.

Ayah kembali menitahku untuk bersikap seolah bangsawan yang tanpa cacat. Ia menerapkan peraturan yang tidak bisa ku elak kan karena aku masih, anak kesayangannya.

Apakah ayah sayang kepadaku?
Tentu saja nak, coba jelaskan apa maksudmu?
Apakah aku lahir atas kasih sayang atau ada rencana lain?
Hah?

Ayahku terheran. Diam dan menungguku untuk berucap kembali. Namun, saat itu, aku ragu untuk menjelaskan perasaan yang seharusnya tidak kucakapkan kepada ayahku sendiri. Ia masih manunggu, berdiri di hadapanku, menatapku tajam. Aku tertunduk dengan topi yang mengenyahkan pandangan ayah ke bulatan mukaku. Aku berdoa dalam hati, ya Tuhan, jadikan apa yang baik itu menjadi kebaikan. Amin.

Andai saja, aku tidak bersikap baik bagaimana yah?
Jangan kau coba mengaku sebagai anak ayah.
Memang kenapa yah?
Seperti yang ku katakan tadi, hal itu bisa mencoreng nama baik keluarga kita.

Dan sebelum ku mulai, emosi sekian tahun menjadi seorang anak perlahan-lahan ku kumpulkan. Saat itu juga, aku menyerang ayahku dengan tatapan bagai seorang polisi kepada kriminil.

Satu hal yang harus ayah ketahui, Aku menginginkan terlahir dengan tujuan hasil dari benih kasih sayang kalian, bukan untuk rencana lain atau untuk hasrat egois kalian berdua..
Apa maks ..?
Sebentar, aku belum selesai. Tadi ayah berkata supaya jangan mencoreng nama baik keluarga kan? Memangnya aku ini apa? Anakmu atau alat untuk memperbaiki sebuah nama yang tidak nyata? Kau bisa menjawab pertanyaanku yah?
Asalkan kau tidak berlaku buruk, itu tak apa.
Oh ternyata ayah masih sama, EGOIS, tak paham maksudku. Ayah lihat apa yang hendak kulakukan nanti.

Aku merasa seperti robot buatan ayah dan ibuku sendiri. aku tidak melakukan apa itu yang salah, mungkin, karena itu pula, aku tidak pernah merasakan apa itu sesungguhnya benar yang sebenar-benarnya karena aku tidak melihat muka salah pada benarku. Dan untuk umurku yang beralih dewasa, ku makan semua pil pertanyaan yang ada sejak dulu. Kemudian, untuk keegoisan orang tua, aku berjalan di ruang gelap dimana tak seorang pun, melihatnya dengan mata. Aku tumbuh dan diajarkan hanya untuk membangun citra baik ayah dan ibu. Mereka menginginkanku sempurna, tak punya pilihan. Seperti hak yang telah terampas, aku mulai berkobar dengan airmata yang mungkin bakal ku teteskan.

dimas.

Kamis, 20 Agustus 2009

Sensasi Agustus Scriptamanologis

Dan agustus, merupakan bulan aneh seribu macam. Dari hampir pusat kisaran emosi, berawal dari bulan yang menunjukkan angka delapan. Aku adalah seorang manusia yang terbit dan tenggelam bersama matahari, bulan dan bintang.

Sepak terjang bulan yang lain seperti lapuk dengan ironi yang membasahi agustus yang sendu dan melankolis. Terlalu banyak klasikal romansa yang ku amati dan ku alami. Aku tersenyum, bersedih, tertawa, bermuram durja, hasil olahan mataku yang tak kunjung sempurna.

Sehari-hari, aku mengonsumsi berbagai macam cerita yang berkutub-kutub. Tak memautkan antara satu dan yang lain. Agustus. Mengapa menjadi bersayap? Terus hinggap kesana dan kemari. Banyak ujian, bercengkerama dengan nasib-nasib yang tak terbayangkan dan ku enyahkan dari mimpiku sebagai seorang bocah yang memiliki banyak cerita.

Shakespeare, Bung Karno, dan Ramadhan berkumpul dalam bulan berwarna biru, dalam pandanganku. Dan setiap rasa yang ku lacurkan, tidak berbahasa baku. Bahasa indonesia, kuperdayakan dirinya menggambari bulan kecumbu. Bulan hasrat dan seonggok rupa-rupa kenangan.

Salam sayang sebagai seorang anak, teman, dan pacar. Setiap pergantian bulan, menyisakan memori yang terkadang membuat bibir ini melebar dan sesaat, membuat kerutan tajam pertanda tidak senang. Dan jalani, setiap keadilan yang bersaksi, karena pelanggaran akan terus teruji. Sensasi agustus, alur pendewasaan menjadi kekal dan sempurna meski hanya, sedikit saja.