Rabu, 27 Oktober 2010

Dampak Televisi dan Cara Mengatasinya

Media massa cenderung kian menginspirasi orang dalam melakukan kejahatan. Pelaku kriminalitas cenderung meniru praktik kejahatan lainnya melalui media massa. Indikasinya adalah munculnya gejala kemiripan kasus-kasus kriminalitas yang menonjol pada tahun ini (Tempo, 10/10).

Kriminalitas yang terjadi di dalam masyarakat tidak hanya dilakukan oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah melainkan masyarakat atas. Apakah fenomena tersebut murni akibat tayangan dari televisi? Lalu, siapa yang seharusnya bertanggung jawab? Bagaimana cara mengatasi dampak tersebut? Pihak-pihak yang berada di bidang pertelevisian merupakan salah satu faktor dari dampak ke masyarakat. Setiap ada masalah, tidak mungkin hanya terdiri dari satu faktor. Dampak televisi ini dapat ditinjau dari segi sosiologis dan antroplogis. Dampak ini juga selalu menjadi wacana di surat kabar. Masalah ini memicu gejolak di hati para pemirsa.

Untuk menjawab pertanyaan ini, wartawan Amatir, Dimas Dito mewawancarai Rimbo Gunawan, Pakar Antropologi dan Sosiologi. Wartawan melakukan wawancara dengan Rimbo Gunawan di ruang dosen gedung C, Fisip Unpad Jatinangor, Senin (17/11) siang. Dosen yang dikenal nyentrik karena rambut gondrongnya ini lahir di Sukabumi pada tanggal 13 Mei 1967. Dosen yang sedang mengejar S3 di Universitas Ateneo de Manila ini merupakan dosen tetap ilmu pemerintahan Unpad. Keseharian beliau selain menjadi dosen adalah mengurus websitenya dan kelompok motornya yang berada di Bandung. Saat ini, beliau juga sedang melakukan penelitian tentang politik konservasi.

Berikut petikan wawancaranya :

***

Menurut anda, bagaimana pengaruh televisi terhadap masyarakat?

Pengaruhnya secara sosiologis sangat besar kepada khalayak karena media biasanya menjadi rujukan. Hal ini menjadi studi kontemporer yang sangat besar. Hal ini terkait dengan power of media yang cukup kuat. Ada banyak jurnal dan ada banyak studi yang terkait dengan peran media di dalam masyarakat, baik itu sebagai sarana untuk sosialisasi atau internalisasi terhadap suatu nilai tertentu. Jika media itu banyak berisi tentang hal yang tak mendidik, pasti akan berdampak buruk bagi masyarakat. Mendidik atau tidak mendidik itu adalah problemnya. Bisa jadi orang dari berbagai sudut melihat apakah suatu tayangan mendidik atau tidak mendidik. Hal tersebut tergantung kepada kedewasaan orang tersebut. Masalahnya adalah masyarakat kita tidak sama dalam melihat hal tersebut.

Mengapa pengaruh dari televise lebih mudah ditiru?

Karena sebagian orang menganggap televisi itu adalah cerminan masyarakat. Harapan orang terhadap televisi juga merupakan harapan masyarakat. Harus ada penguatan dari masyarakat itu sendiri untuk menyaring tayangan tersebut.

Ada kesan bahwa televisi itu cenderung memengaruhi masyarakat?

Televisi mempunyai kapasitas untuk memengaruhi masyarakat, bukan cenderung. Itu semua tergantung kepada manusianya itu sendiri. Di budaya Amerika seeing is believing. Ini adalah kultur di Amerika bahwa melihat itu lantas percaya. Di budaya Arab, listening is believing. Jika di Indonesia sendiri, melihat cenderung sebagai sesuatu yang dipercaya. Padahal itu bisa saja menipu.

Mengapa hanya orang-orang dari kalangan menengah ke bawah yang mudah terpengaruh oleh tayangan televisi?

Ini disebabkan karena tingkat kematangan mereka di level rendah. Setiap hari, mereka dicekoki oleh tayangan televisi yang menggambarkan pola hidup yang serba gampang. Mereka tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang itu. Untuk itu, mereka mendapatkan kesempatan yang mudah dengan cara yang shortcut juga. Dengan cara-cara yang ilegal. Tetapi tidak hanya orang miskin saja yang mendapatkan kesempatan itu, orang kaya juga memiliki kesempatan. Yang membedakannya adalah kualitas atau modus pada strata sosial ini.

Contohnya bagaimana yang dimaksud dengan cara-cara yang ilegal?

Biasanya, orang miskin mengekspresikan secara kasar seperti mencuri, merampok, dan membegal. Beda lagi dengan orang kaya. Orang kaya melakukan kegiatan yang ilegal secara intelek dan halus seperti korupsi dan money laundring atau macam-macam. Yang jelas, mereka mempunyai kesempatan untuk itu.

menurut Ketua KPI, Bimo Nugroho, ada hubungan erat kekerasan dalam tayangan televisi dan di kehidupan nyata, bagaimana komentar anda tentang pernyataan tersebut?

Itu memang benar seperti yang saya katakan tadi bahwa apa yang dilihat itulah kenyataan. KPI memang tidak punya gigi, mereka mempunyai kewenangan untuk mengatakan baik dan tidak baik. Tetapi, aplikasi atau operasional dari sangsi itu tidak cukup kuat untuk menahan dan menegakkan apa yang menjadi kontrol masyarakat.

Menurut Pimpinan Redaksi TV One pada sebuah debat mengenai dampak buruk media di acara Barometer yang disiarkan di SCTV, berita tentang kekerasan atau narkoba jika tidak disiarkan juga akan menjadi masalah di dalam masyarakat, bagaimana tanggapan anda terhadap komentar tersebut?

Televisi bisa direspon beragam. Bisa jadi itu menginspirasi atau ini juga menjadi bahan pembelajaraan orang supaya tidak tertipu. Ini adalah positif dan negatifnya. Semua ini tergantung kepada pemirsa. Sayangnya, televisi sekarang tidak mencantumkan bahwa siaran ini harus ada bimbingan. Tanggung jawab tetap saja kepada pemirsa.

Apakah KPI sudah mengetahui dampak tersebut?

Saya kira mereka sudah mengetahui. Tetapi, mereka hanya mengeluarkan statement normatif. Mereka hanya memberi statement tetapi tidak mereka tidak mempunyai perangkat untuk mengontrol tayangan televisi. Misalnya tayangan televisi itu merusak dan mengganggu. Mereka hanya ngomong itu. Sekarang saja ada keinginan untuk menunda siaran tertentu, tetapi apakah itu efektif. Sebenarnya yang bekerja itu mekanisme uang artinya, tayangan itu ratingnya tinggi karena banyak orang suka. Tetapi kontennya tidak mendidik.

Jadi, hanya televisi saja yang harus mengontrol tayangan mereka?

Sebenarnya bukan televisi saja. Masyarakatnya juga harus mengontrol dengan cara menyaring apa yang ia tonton. Masyarakat harus mempunyai filter yang kuat dalam hal ini. Masyarakat harus dididik. Jika masyarakat melakukan boikot terhadap televisi, pasti yang mengalami kerugian adalah televisi itu sendiri. Sayang di Indonesia belum cukup kuat untuk mengontrol televisi. Di luar negeri, saya pernah melihat, masyarakat atau konsumen itu dapat menentukan bahwa televisi ini layak atau tidak. Mereka membuat statement tentang itu.

Lalu, bagaimana dengan pengaruh buruk terhadap anak-anak yang belum mempunyai filter dalam diri mereka?

Anak-anak harus diawasi oleh orang tua. Efektifnya, harus ada kontrol dari keluarga. Di Jepang, anak-anak hanya mempunyai waktu yang terbatas dalam menonton TV. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk belajar. Di Indonesia, anak-anak sepertinya kurang mendapatkan pengawasan karena orang tua mereka yang aktif bekerja. Tayangan yang bisa dibilang memengaruhi anak-anak sebaiknya ditayangkan di atas waktu prime time. Seperti jam sepuluh ke atas setelah anak-anak tidur.

Dalam kasus ini apakah murni hanya pihak televisi yang bertanggung jawab?

Kesalahan saya kira dari produsen. Intinya adalah yang harus bertanggung jawab adalah mereka yang mengijinkan siaran itu tayang. Masyarakat juga harus mempunyai control yang kuat.

Apakah pemerintah tidak ikut bertanggung jawab?

Apa lagi yang bisa diminta dari pemerintah. Sejak dulu, pemerintah sudah pernah membentuk badan sensor dan lembaga lainnya tetapi tetap tidak efektif. Semuanya kembali kepada kesadaran kolektif masyarakat itu sendiri. Mereka harus mengordinasikan sendiri apa yang baik untuk dirinya.

Disini, apakah televisi sekarang hanya mencari unsur kehebohan atau sensasi?

Itu memang betul. Sekarang televisi hanya condong kepada tayangan yang sifatnya glamour, mahal, hal-hal yang kaya materi, dan pergaulan bebas. Masih mengejar kepada sifat ekonominya.

Mengapa hal itu bisa terjadi di pertelevisian?

Saat ini, semua lebih karena ingin mendapatkan uang yang banyak. Untuk mendapatkan rating. Semua ini hanya persoalan bisnis semata.

Apakah ada media televisi yang benar-benar netral?

Saya kira tidak ada media yang netral. Semua pasti dimiliki oleh para pemilik modal. Media televisi di indonesia menganut sistem liberal. Sangat terbuka. Lihat saja di sebuah stasiun televisi yang dimiliki oleh Bakrie, televisi itu tidak akan memberitakan masalah lumpur Lapindo. Jika diberitakan, tidak akan bersifat provokasi. Ini semua demi kepentingan sang pemilik modal. Ada juga di stasiun televisi lain, acara Golkar bersama Surya Paloh yang ditayangkan berjam-jam. Padahal hal tersebut tidak berguna sama sekali.

Berkaitan dengan pengesahan RUU Pornografi, apakah kualitas televisi akan menjadi baik?

Saya kira akan berubah menjadi baik, tetapi kita lihat saja nanti. Sebenarnya saya tidak setuju dengan pengesahan tersebut karena dilihat dari kultur budaya akan memasung keberagaman. Masalahnya tidak ada definisi yang jelas tentang apa itu pornografi. Moralitas saya kira tidak bisa dijadikan undang-undang.

Harapan anda tentang siaran televisi yang baik bagi masyarakat ?

Kalau saya harapannya bukan ke televisinya, tetapi lebih kepada masyarakatnya. Masyarakat harus bisa memilih. Televisi juga harus memiliki self control yang lebih baik lagi. Tetapi yang penting bagaimana mendidik masyarakat agar mereka paham bahwa televisi itu bukan segalanya. Apa yang ditampilkan di televisi itu bukan representasi kejadian yang mutlak. Televisi juga harus mengikuti aturan pemerintah atau aturan penyiaran segala macem. Masyarakat harus diperkuat lagi bahwa televisi bukan segalanya.



Tugas Mata Kuliah Wawancara*

Sabtu, 23 Oktober 2010

Hari Mendung

apakah itu hidup, yang terbuka menghidupimu

diberikan nasib baik, dilepas ketidaksukaan

lalu, kesenangan

apakah terburai menjadi wajahmu

dengan matahari, dan awan yang gelap


dan kubiarkan apa itu yang terdalam

aku merindukan ibuku

aku bertanya kepada malam

mengapa siang menjadi murung, dan udaranya terbekap,

dalam ribuan hari di kala mendung.


3 Oktober 2010

Rabu, 20 Oktober 2010

Bunga Mawar

bunga itu terus mekar, meski musim datang sembarang.
pada malam yang beku, ia setia.
pada panas hari, ia tetap bergelora

sampai pada waktunya, ia habis oleh lebah-lebah nakal.
ia merindu, ia cemburu padamu.
ia sudah layu bukan oleh sengatan, ia redup untuk tertidur
dan bangun pada tunas-tunas barunya.

kala ia tumbuh lagi, kelopaknya menghalangi lolongan anjing
tangkainya tetap pada tanah, meski angin bersemangat
menyapu-nyapunya kepinggir-pinggir.

sang bunga mawar, sang ratu di ladang ilalang
ia tak peduli kesendirian, meratapi malam yang muram,
mendengar sayup-sayup ancaman
ia tetap bunga mawar, yang indah pada tanganmu
yang harum saat kau cium

bunga mawar tetaplah begitu
pada dunia yang malu-malu
pada kekuasaan,
yang tak pernah mau jatuh.


13 Oktober 2010

Kamis, 14 Oktober 2010

Bapak

selamat ulang tahun bapak


mendekatlah pada bapakmu
dialah bijaksana atas dirimu,
dialah akar yang berada di bawah, menjadikanmu batang pohon besar
yang kelak memayunginya.
peluklah, lindungilah.

mungkin saja ia cemburu, pada ibumu
dan hidupnya demi kamu berdua.
hampirilah, itu bapakmu.
dia, yang diam-diam saja melihatmu mengadu,
dan bercerita kepada ibu.

dia yang bahagia, diam-diam saja,
sendiri menikmati hewan peliharaannya.
dialah bapakmu, yang tak pernah mau
menjadikan dirimu, sama seperti dirinya

dialah raja yang setia pada rakyatnya.
ia seekor singa yang lembut padamu,
anak-anak kesayangannya.

Selasa, 05 Oktober 2010

Tuhan

Pada malam yang dingin,

di bulan yang sedikit menguning;

kukatakan, sebut saja itu Tuhan,

yang menjalar dalam darah,

yang dekat pada lehermu.

Menunggu

Sampai di jalan-jalan Kota Lama,

dan tuan telah duduk bersama bunga

Menunggu;

pada waktu tiba, dia tiada

menjadi abu, mekar pun layu

menunggu,

memanggilmu.

Minggu, 03 Oktober 2010

Oktober.

I
Oktober.
dan tampak sebongkah nisan, peristirahan kecil memori persekutuan.
inilah cara hati untuk melarikan diri,
inilah kata-kata untuk menyakiti.
namun, hujan sedang bertengkar;
hingga angin menjadi ribut
sedang guntur pelan-pelan saja.

II
kuambilnya secarik kertas, kulabelinya dengan pena.
dengan kalimat sederhana, siapa nyana, tak bolehkah aku menjadi dewa.
disini, dengan garis-garis pembatasnya.
dan aturan-aturan itu kembali ada, disaksikan aksara dan gambar lama.
kembaliku, tak ada hasrat tuk bersama

III
sedang siapakah yang bertemu,
diantara belaian-belaian dingin seorang wanita.
tidak engkau, si musiman.
tidak aku, siluman anak jalanan.
dan di luasan gunung yang cantik, pemuda-pemudi berdiri
memandang langit yang sama, tidak oranye, tidak kelabu
tapi kaki-kaki itu basah, rambut-rambut itu klimis
seperti ada hujan tanpa pertanda
dan telah ganjil-ganjil aku tebak.
pemuda-pemudi, yang sedang terjebak.